Orang yang berpikiran rasional pintar dalam mengolah perencanaan. Sementara itu, seorang mastermind atau pemikir menjadi ujung tombak dan tumpuan dalam suatu pola perencanaan kontingensi yang sering bersifat kompleks. Mastermind adalah orang yang cukup jeli dalam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam suatu perencanaan kerja. Ia tahu betul hambatan dan rintangan yang akan dihadapi dan bisa memilih jalan yang tepat untuk mengatasinya. Seorang mastermind tidak akan mulai menjalankan progam kerjanya tanpa dibekali Rencana A yang benar-benar solid. Namun, dalam perjalanan programnya ia juga melengkapi diri dengan satu set perencanaan—Rencana B, Rencana C dan seterusnya.
Mastermind memang jarang ditemui. Jumlah mereka berkisar satu persen dari jumlah populasi yang ada. Meskipun diyakini mereka mampu menjadi pemimpin yang cakap, mereka tidak terlalu berhasrat tampil memegang tongkat komando, lebih suka berdiri di balik layar dan kemudian maju setelah semua orang merasa tidak sanggup lagi menguasai keadaan. Pada saat tampilnya seorang mastermind, kita melihat potret seorang yang pragmatis. Sikap ini dikuatkan dengan gerakan efesiensi di seluruh program kegiatan yang bertujuan untuk memutar roda organisasi. Andaikan saja ada inefesiensi dalam sumber daya manusia dan sumber-sumber daya yang lain, proses reposisi dan pengalihan segera diberlakukan.
Mastermind tidak merasa terikat dengan aturan dan prosedur baku. Pemimpin tradisional tidak cukup mampu menarik simpati mereka, demikian juga dengan slogan dan kata-kata bijak. Seorang mastermind hanya mau mengambil gagasan-gagasan yang masuk akal. Sementara yang tidak masuk akal tidak mungkin disentuh, sepenting apapun sumber dan orang yang telah berani menyampaikan. Fokus mereka terutama adalah efesiensi maksimal.
Dalam mengejar karir, mastermind cenderung mendapatkan posisi-posisi yang penuh tanggung jawab lantaran usaha panjang dan perjuangan mereka ditumpahkan untuk mengejar cita-cita. Problem solving menjadi inti kerja mastermind yang sangat senang menggeluti sistem-sistem kerja yang rumit dan membutuhkan kecermatan pikiran. Bisaanya, mereka bersikap dan bertutur-kata tentang hal-hal yang positif, berusaha menghindari ungkapan-ungkpan yang negative sebab mereka lebih tertarik untuk memajukan organisasi daripada berkutat pada permasalahan masa lalu.
Mastermind cenderung lebih bersikap terbuka, tanpa tedeng aling-aling, dan lebih percaya diri dibandingkan dengan orang rasionalis yang lain. Hal ini karena mereka memiliki kemauan yang kuat. Mereka bisa membuat keputusan dengan mudah dan gamblang, meski di lain waktu mereka akan sabar menunggu sampai segala persoalan yang ada bisa tuntas dan terselesaikan. Dengan pengamatan yang jeli mereka memutuskan persoalan. Mastermind memang sangat teoritis dalam menetapkan sebuah keputusan, namun mereka tidak melupakan fakta yang ada sebelum berkeputusan. Dari sisi ini mereka akan mengkaji ulang ungkapan-ungkapan yang terlalu gegabah dalam suatu keputusan yang tidak berdasar pada kenyataan yang sebenarnya.
Beberapa model pemimpin mungkin termasuk dalam kategori mastermind. Satu pertanyaan sederhana perlu saya ajukan: “Apakah anda termasuk sebagai mastermind?”