November 24, 2009 at 3:45 pm (Article)
Kepribadian seorang pemimpin bisa dikenali dari kebijakan-kebijakan yang sudah dan akan dijalankannya. Dengan proses pengambilan kebijakan dan bagaimana kebijakannya itu dijalankan, orang lain bisa mengetahui kualitas kepribadian pemimpin yang menginginkan kita untuk bisa mematuhi semua komandonya. Bagi kita yang menjadi bawahan, pertimbangan kita untuk patuh dan tidak patuh bukan hanya karena jabatan yang sekarang ini dipegangnya. Dengan berdalih demi kepentingan organisasi, kita bisa serta merta menuruti semua kemauan pemimpin without reserve.
Ada kalanya, bahkan selama hidup kita, pemimpin-pemimpin yang tidak cukup berkualitas bisa saja tampil di atas pentas kepemimpinan. Inilah uniknya dunia kepemimpinan dan manajemen di banyak organisasi. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita mengahadapi ‘the fake leader’ dengan gaya dan kinerjanya? Apakah cukup bagi kita untuk mengalir begitu saja?
Konflik perseorangan dan kelompok akan selalu terjadi akibat tidak adanya kesesuaian standar yang kita miliki dengan yang ditetapkan oleh si pemimpin. Biasanya, model pemimpin yang tidak mampu menggerakkan unsur-unsur potensial di dalam sebuah organisasi selalu akan mengulangi kesalahan demi kesalahan manajerial yang semestinya tidak perlu terjadi. Karena kurangnya kompetensi, si pemimpin akhirnya lebih sering memaksakan kehendak dengan power yang dimilikinya.
Comments Off
November 3, 2009 at 3:32 am (Personality Traits)
The big five personality traits can be summarized as follows:
Neuroticism – A tendency to easily experience unpleasant emotions such as anxiety, anger, or depression.
Extroversion – Energy, surgency, and the tendency to seek stimulation and the company of others.
Agreeableness – A tendency to be compassionate and cooperative rather than suspicious and antagonistic towards others.
Conscientiousness – A tendency to show self-discipline, act dutifully, and aim for achievement.
Openness to experience – Appreciation for art, emotion, adventure, and unusual ideas; imaginative and curious.
These traits are usually measured as percentile scores, with the average mark at 50%; so for example, a Conscientiousness rating in the 80th percentile indicates a greater than average sense of responsibility and orderliness, while an Extroversion rating in the 5th percentile indicates an exceptional need for solitude and quiet.
Read the reference
Comments Off
November 3, 2009 at 3:27 am (Article)
Semakin berkembang kepribadian seseorang maka bisa diharapkan semakin berkembang pula pemikiran. Dalam satu ungkapan pasti, tidak terkungkung dalam pemikirannya sendiri. Orang ini lebih bersifat open-minded. Dia adalah orang bisa bergaul dengan siapa saja lantaran sikapnya yang fleksibel, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Comments Off
October 31, 2009 at 5:09 pm (Article)
Dua buah konsep yang sekarang ini kita bicarakan. Kepribadian adalah masalah personal yang terkait dengan karakteristik dan nilai moral yang membentuk perilaku pada diri seseorang. Budaya menyangkut masalah sosial dan antroplogi yang memiliki beberapa unsur yang kurang lebih sama dengan kepribadian yakni berupa kepercayaan, nilai moral dan kebiasaan masyarakat.
Rasa malu sendiri bisa melekat seorang pribadi maupun masyarakat. Sikap malu menunjukkan suatu perubahan negatif pada perasaan seseorang akibat hal-hal pada dirinya yang dianggap tidak pantas atau menyalahi nilai moralnya. Satu sosok pribadi bisa merasakan malu apabila dia menjalankan sebuah perbuatan yang tidak dibenarkan nilai moral yang dimilikinya. Masyarakat menetapkan dan menerapkan beberapa sikap atau perilaku baik-buruk berdasarkan nilai moral yang dianggap benar secara bersama-sama. Ketetapan yang baik wajib dilakukan oleh anggota masyarakat. Ketentuan yang buruk harus pula ditinggalkan agar tidak norma susila masyarakat itu. Pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku dianggap sangat tidak pantas dan memalukan.
Budaya malu adalah konsep nilai bersama yang dengan sengaja diajarkan atau ditularkan kepada anggota masyarakat untuk bisa dipatuhi bersama. Biasanya, persoalan yang ditekankan adalah masalah pelanggaran norma tentang hal-hal yang tidak baik, dimana para pelanggarnya dikenai sangsi oleh anggota masyarakat yang lain karena dianggap sudah memalukan diri sendiri atau seluruh anggota masyarakat yang ada. Pelanggaran normatif ini lantas memberi dampak perubahan sikap anggota masyarakat kepada pelakunya agar jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
Comments Off
September 12, 2009 at 2:53 am (Referensi)
Tags: Dr. C. George Boeree
Comments Off
September 12, 2009 at 2:15 am (Article)
Orang yang berpikiran rasional pintar dalam mengolah perencanaan. Sementara itu, seorang mastermind atau pemikir menjadi ujung tombak dan tumpuan dalam suatu pola perencanaan kontingensi yang sering bersifat kompleks. Mastermind adalah orang yang cukup jeli dalam memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dalam suatu perencanaan kerja. Ia tahu betul hambatan dan rintangan yang akan dihadapi dan bisa memilih jalan yang tepat untuk mengatasinya. Seorang mastermind tidak akan mulai menjalankan progam kerjanya tanpa dibekali Rencana A yang benar-benar solid. Namun, dalam perjalanan programnya ia juga melengkapi diri dengan satu set perencanaan—Rencana B, Rencana C dan seterusnya.
Mastermind memang jarang ditemui. Jumlah mereka berkisar satu persen dari jumlah populasi yang ada. Meskipun diyakini mereka mampu menjadi pemimpin yang cakap, mereka tidak terlalu berhasrat tampil memegang tongkat komando, lebih suka berdiri di balik layar dan kemudian maju setelah semua orang merasa tidak sanggup lagi menguasai keadaan. Pada saat tampilnya seorang mastermind, kita melihat potret seorang yang pragmatis. Sikap ini dikuatkan dengan gerakan efesiensi di seluruh program kegiatan yang bertujuan untuk memutar roda organisasi. Andaikan saja ada inefesiensi dalam sumber daya manusia dan sumber-sumber daya yang lain, proses reposisi dan pengalihan segera diberlakukan.
Mastermind tidak merasa terikat dengan aturan dan prosedur baku. Pemimpin tradisional tidak cukup mampu menarik simpati mereka, demikian juga dengan slogan dan kata-kata bijak. Seorang mastermind hanya mau mengambil gagasan-gagasan yang masuk akal. Sementara yang tidak masuk akal tidak mungkin disentuh, sepenting apapun sumber dan orang yang telah berani menyampaikan. Fokus mereka terutama adalah efesiensi maksimal.
Dalam mengejar karir, mastermind cenderung mendapatkan posisi-posisi yang penuh tanggung jawab lantaran usaha panjang dan perjuangan mereka ditumpahkan untuk mengejar cita-cita. Problem solving menjadi inti kerja mastermind yang sangat senang menggeluti sistem-sistem kerja yang rumit dan membutuhkan kecermatan pikiran. Bisaanya, mereka bersikap dan bertutur-kata tentang hal-hal yang positif, berusaha menghindari ungkapan-ungkpan yang negative sebab mereka lebih tertarik untuk memajukan organisasi daripada berkutat pada permasalahan masa lalu.
Mastermind cenderung lebih bersikap terbuka, tanpa tedeng aling-aling, dan lebih percaya diri dibandingkan dengan orang rasionalis yang lain. Hal ini karena mereka memiliki kemauan yang kuat. Mereka bisa membuat keputusan dengan mudah dan gamblang, meski di lain waktu mereka akan sabar menunggu sampai segala persoalan yang ada bisa tuntas dan terselesaikan. Dengan pengamatan yang jeli mereka memutuskan persoalan. Mastermind memang sangat teoritis dalam menetapkan sebuah keputusan, namun mereka tidak melupakan fakta yang ada sebelum berkeputusan. Dari sisi ini mereka akan mengkaji ulang ungkapan-ungkapan yang terlalu gegabah dalam suatu keputusan yang tidak berdasar pada kenyataan yang sebenarnya.
Beberapa model pemimpin mungkin termasuk dalam kategori mastermind. Satu pertanyaan sederhana perlu saya ajukan: “Apakah anda termasuk sebagai mastermind?”
Comments Off
February 27, 2009 at 4:41 am (Article)
Tags: refleksi diri
Dalam banyak hal kita lebih suka untuk meneropong bagaimana orang lain bersikap dan berperilaku. Kita tahu betul kepribadian seseorang karena kita memang sering membicarakannya dengan orang lain di belakangnya. Orang yang sedang kita nilai dan kita bicarakan sama sekali tidak menyadari bahwa sifat dan kepribadiannya sudah ada di tangan orang lain. Kita sendiri, terlalu jarang untuk mau mengenali diri sendiri, entah dengan jalan refleksi atau mau mendengar pandangan orang lain yang menyangkut kita. Kita tidak ingin ada orang yang mengomentari segala tindak-tanduk kita baik yang menyangkut persoalan pribadi, yang terkait dengan kepentingan masyarakat dan dunia kerja.
Sering kita lebih terbuka untuk menilai kepribadian orang lain daripada yang mengenai diri kita sendiri. Bahkan menggunjing keburukan orang lain sudah menjadi hal yang lumrah dan membudaya. Kesalahan sekecil apapun seakan-akan sangat jelas di depan mata. Namun, pada giliran kita harus menggali apa kelebihannya kita akan mengalami kesulitan. Begitulah ciri khas dari gosip, seperti yang sering dilakukan orang.
Comments Off
February 27, 2009 at 4:23 am (Article)
Tags: simple life
Hidup sederhana sudah banyak dilupakan orang. Kebanyakan, mereka menjalani hidup sederhana kalau benar-benar terpaksa dan tidak memliki apa-apa. Yang tidak punya, dalam kondisi miskin, justru banyak yang bergaya borjuis, memaksakan diri untuk menggapai semua yang ditawarkan oleh dunia. Mereka justru tidak lagi mempertimbangkan kemampuan pribadi dan keluarganya untuk membiayai gaya hidup mereka yang tidak lagi bersahaja.
Seorang teman mengingatkan saya untuk menjalani kesederhanaan dalam berpikir. Ajakan teman inilah yang rasakan penting sekarang ini. Dari pemikiran atau perasaan yang berlebih, kita bisa dan mungkin sekali terjerambab dalam kubangan nasib buruk yang tiada habisnya.
Hidup manusia sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Ini yang sering kita lupakan. Kita berkhayal bahwa semua cita-cita kita akan bisa terpenuhi, melihat segalanya sudah kita miliki. Tidak semua yang kita idamkan akan menjadi kenyataan. Ini yang perlu sekali kita fahami betul.
Comments Off
October 22, 2008 at 3:47 am (Article)
Salah satu tipe kepribadian yang bisa kita temui di sekitar kita adalah tipe orang yang suka menyediri. Tipe ini tampak dari luar tidak berkeinginan untuk bergaul dengan orang lain kecuali orang yang biasa ia kenal. Orang yang memilih menjalani hidup dengan sikap tertutup seperti ini memiliki latar belakang hidup yang tidak selalu sama. Ada yang bersikap menyendiri lantaran pengaruh keluarga. Ada juga yang disebabkan oleh suatu kekuarangan yang ada pada dirinya, sehingga ia tidak terlalu percaya diri. Penyebab lain masih bisa kita amati lebih jauh.
Saya menyebutkan kata “memilih” dalam penjelasan di atas. Hal ini karena saya yakin bahwa hidup ini berisikan berbagai macam pilihan. Kecuali orang yang mengalami kondisi cacat, proses pemilihan dalam semua proses kehidupan ini masih berlaku. Memilih untuk jalan sendiri, rasanya berat. Beratnya hidup dengan segala kesendirian disebabkan beratnya tantangan dalam hidup dan terbatasnya kemampuan per individu.
Comments Off
September 5, 2008 at 3:23 am (Article)
Tags: idealis
Semua orang yang termasuk idealis memiliki sifat-sifat dasar sebagai berikut:
- Orang idealis bersifat antusias, mereka percaya terhadap intuisi, pintar berkasih mesra, mencari kebenaran pribadi, memperjuangkan hubungan-hubungan yang bermakna dan memimpikan filsafat hidup yang bijak.
- Orang idealis bangga dengan sifat-sifat yang melekat dalam pribadi mereka sebagai orang yang bersikap penyayang, baik hati dan autentik
- Orang idealis cenderung bersifat pemurah, mudah percaya pada orang lain, memiliki bakat spiritual dan berfokus mengembangkan pribadi dan potensi manusiawi.
- Orang idealis mampu menjadi sahabat yang baik, bisa menghargai orang yang tua dan akan berpeluang menjadi pemimpin yang penuh inspirasi.
Idealis, sebagai temperamen, sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Orang idealis berusaha keras untuk menemukan jati diri pribadi dan bersemangat untuk meraih kondisi-kondisi terbaik dalam hidupnya—pengenalan jati diri dan dorongan untuk terus meningkatkan citra diri selalu ada di benak mereka. Gairah inilah yang membuat mereka mau mendorong orang lain berbuat serupa. Orang yang bersifat idealis dikenal mampu bekerja dengan orang lain. Di lingkungan kerja seperti pendidikan, layanan bimbingan konseling, bidang kerja sosial atau personalia, di dunia jurnalisme dan lainnya, mereka cukup berbakat untuk membantu orang lain menemukan jalan hidup yang tepat dan seringkali memberikan inspirasi bagi lain orang untuk tumbuh sebagai pribadi yang utuh dan melengkapi cita-cita hidup mereka dengan potensi alaminya.
Orang idealis merasa yakin bahwa kerjasama yang harmonis merupakan cara terbaik dalam meraih cita-cita hidup mereka. Sementara itu, munculnya konflik dan konfrontasi membuat mereka resah sebab mereka terlalu rentan terhadap hambatan emosional yang terjadi antar pribadi. Impian orang idealis adalah menciptakan hubungan-hubungan pribadi yang harmonis dan saling pengertian. Mereka memiliki bakat unik untuk membantu orang lain memecahkan masalah demi kebaikan bersama. Harmoni dalam hubungan interpersonal bisa jadi merupakan kondisi ideal yang romantis, namun pada akhirnya orang-orang idealis terlalu bersikap romantis sehingga lebih terpaku pada angan-angan, daripada kemampuan untuk melihat kenyataan. Dunia nyata dan apa adanya merupakan titik awal bagi orang yang idealis, yang nantinya mereka harapkan muncul kemungkinan-kemungkinan yang dibuktikan dalam kenyataan, penuh dengan makna yang bisa dipahami. Dalam dimensi mistik atau spiritual, “yang tak tampak” atau “yang belum terwujud” hanya akan bisa diraih dengan intuisi atau tumbuhnya kepercayaan tampaknya menjadi lebih penting dibandingkan hal-hal yang bersifat material.
Comments Off