Kepribadian seorang pemimpin bisa dikenali dari kebijakan-kebijakan yang sudah dan akan dijalankannya. Dengan proses pengambilan kebijakan dan bagaimana kebijakannya itu dijalankan, orang lain bisa mengetahui kualitas kepribadian pemimpin yang menginginkan kita untuk bisa mematuhi semua komandonya. Bagi kita yang menjadi bawahan, pertimbangan kita untuk patuh dan tidak patuh bukan hanya karena jabatan yang sekarang ini dipegangnya. Dengan berdalih demi kepentingan organisasi, kita bisa serta merta menuruti semua kemauan pemimpin without reserve.
Ada kalanya, bahkan selama hidup kita, pemimpin-pemimpin yang tidak cukup berkualitas bisa saja tampil di atas pentas kepemimpinan. Inilah uniknya dunia kepemimpinan dan manajemen di banyak organisasi. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita mengahadapi ‘the fake leader’ dengan gaya dan kinerjanya? Apakah cukup bagi kita untuk mengalir begitu saja?
Konflik perseorangan dan kelompok akan selalu terjadi akibat tidak adanya kesesuaian standar yang kita miliki dengan yang ditetapkan oleh si pemimpin. Biasanya, model pemimpin yang tidak mampu menggerakkan unsur-unsur potensial di dalam sebuah organisasi selalu akan mengulangi kesalahan demi kesalahan manajerial yang semestinya tidak perlu terjadi. Karena kurangnya kompetensi, si pemimpin akhirnya lebih sering memaksakan kehendak dengan power yang dimilikinya.









